Senyum Itu Indah

Juli 7, 2008

Oleh: Prima Nugroho

Tuduhan bahwa bangsa ini sedang sakit jiwa, sudah keluar dari mulut sejumlah orang. Sebagian buktinya, bisa dilihat dari kejadian-kejadian seperti dukun santet di Jatim, tragedi Trisakti, bom Bali, munculnya agama baru, sampai dengan maraknya kasus korupsi para wakil rakyat. Kebenaran tuduhan ini, memang masih perlu pembuktian lebih lanjut. Namun, sulit mengingkari kenyataan bahwa ada jutaan manusia yang hidup was-was setiap hari, karena lamanya bangsa ini hidup dari tragedi ke tragedi.

Bila ini berlanjut, ratusan juta manusia yang menjadi pilar utama bangsa ini, cepat atau lambat mungkin mirip dengan komunitas orang gila. Tidak saling mengenal, saling mencurigai satu sama lain, mudah terbakar oleh isu. Sebagai hasilnya, jadilah kita sebuah komunitas manusia sakit, yang tidak hanya menyakitkan bagi diri sendiri, tetapi juga menakutkan bagi orang lain. Dalam keadaan demikian, kondisi masyarakat yang sehat (baik fisik maupun psikologis) sungguh merupakan mimpi yang menjadi dambaan banyak orang.

Saya pernah mendengar sebuah kalimat dari kesusastraan luar yang berbunyi: health is not just the absence of disease, but an inner joyfullness that should be ours all the time. Kalau kita menilik dari kalimat tersebut, rasanya kita masih teramat jauh dari kondisi sehat.

Bayangkan, ada kepala orang yang diarak keliling kota. Ada kiai yang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Ada gereja dan masjid yang hancur terbakar. Ada mahasiswa yang mati dengan tangan kosong berhadapan melawan pasukan bersenjata. Ada polisi lalu lintas yang tidak mengerti persoalan dihajar dan ditabrak. Ada pusat perbelanjaan yang hancur karena sebuah bom. Ada perang satu agama tetapi berbeda prinsip hidup. Ada ibu-ibu yang tidak pernah bisa mengerti kenapa Jakarta menjadi demikian menakutkan. Apabila semua itu digabung menjadi satu, kondisi inner joyfullness hanyalah sebuah impian muluk-muluk yang teramat jauh.

Saya mungkin hanya bermimpi bisa menjadi penyembuh dalam keadaan ini. Namun, membiarkan masyarakat hidup dengan keadaan seperti ini, tidak saja menghancurkan sumber daya manusia, tetapi mencampakkan kehidupan yang penuh dengan misi. Lebih dari itu, kita sedang mewariskan sejarah yang tidak membuat anak cucu sehat dengan vitamin-vitamin kejiwaan, tetapi malah menanam banyak racun kemanusiaan yang teramat busuk di sana-sini.

Dalam sebuah pertemuan sebuah komunitas minoritas jogja, hati saya pernah terluka. Hampir semua orang yang berbicara membangun tembok kami-kamu tinggi-tinggi. Kalau mayoritas begini, maka minoritas begitu. Kalau kamu itu maka kami ini. Dan seterusnya. Banyak orang-orang mempunyai rasa kebanggaan yang berlebih terhadap dirinya masing-masing ataupun dalam lingkup sebuah komunitas. Primodialisme yang begitu kuat sehingga menganggap diri sendirilah yang paling benar.

Mungkin saya hanya seorang pemimpi, namun sejarah mengajarkan, kebencian tidak pernah bisa disembuhkan secara total dengan kebencian. Tembok kita akan diikuti oleh tembok orang lain. Setiap penguasa yang naik tahta melalui jalan kekerasan akan berakhir dengan kekerasan juga.

Keyakinan kita terhadap sesuatu sudah sangat jarang dimiliki dalam diri. Prinsip dasar kehidupan manusia sebagai makhluk sosial banyak sekali disalahartikan. Bangsa ini terjebak dalam penyakit krisis keyakinan yang sedemikian kronis, sulit untuk disembuhkan. Dengan penuh keprihatinan harus saya ungkapkan ke Anda, keyakinan untuk sembuh terakhir inilah yang sedang dihancurkan oleh banyak orang.

Coba baca media cetak. Dengarkan radio. Tonton televisi. Belalakkan mata di tengah demonstrasi jalanan yang penuh dengan hujatan. Amati pidato pejabat dan pemimpin informal lainnya. Buka telinga terhadap obrolan resmi maupun tidak resmi. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut-mulut kecil masyarakat. Semuanya menumpukkan gunungan ketidakyakinan pada orang lain.

Saya ingin bertanya kepada Anda, siapa manusia Indonesia yang layak kita percayai sekarang ini? Pemerintah, politisi, intelektual, wakil rakyat, cendekiawan, mahasiswa, pengurus partai? Bila mencari dari pemikiran publik, tidak ada yang dianggap layak. Dan itu bukan karena pemikirannya keliru, namun kita sudah mengikat diri ke dalam penjara-penjara kecurigaan, kebencian, dan ketakutan. Dan penyakit parah yang sedang kita sandang sekarang ini, tentu saja karena kita secara bersama-sama yakin bahwa kekerasan dan kebencianlah pilihan yang paling layak. Di tengah jutaan manusia yang membangun tembok-tembok tinggi , saya bermimpi ada segelintir tokoh yang menjadi pahlawan. Ada pemuka yang menyejukkan jiwa dengan seluruh nyanyian kemanusiaannya. Sayangnya, jumlahnya amat dan teramat sedikit.

Saya bukanlah seorang manusia sempurna yang memiliki kehidupan ideal. Saya hanyalah seorang mahasiswa yang sedang mencari jati diri, yang sama dengan manusia lain, memiliki kebutuhan dasar untuk mencintai dan dicintai. Dalam kehidupan, hanya di tengah banjir cintalah inner joyfullness bisa tumbuh subur. Suatu adegan dalam sebuah film FTV yang ditayangkan SCTV pernah berujar: give me a smile, and I’ll give you the whole world.

Betapa indah dan produktifnya hidup, bila ada kumpulan manusia yang amat boros menghamburkan senyum ke orang lain. Berbicara dengan mimik muka senyum. Tindakan yang mengundang senyum kagum. Pikiran yang penuh dengan sprit tersenyum. Betapa indahnya dunia bila mimpi ini bisa tercapai.

Jogja, 29 Mei 2008

Entry Filed under: humanity. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


obj=new Object;obj.clockfile="0012-silver.swf";obj.TimeZone="JOG";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);

kata tamuku

yang udh ksini

Tulisan Terakhir