Maksimalkan Otak Untuk Berpikir

Juli 7, 2008

Oleh: Prima Nugroho

Akal pikiran adalah suatu anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia sehingga manusia menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Pikiran juga dapat membawa seseorang ke kehidupan yang lebih layak jika pikiran tersebut diimbangi dengan akhlak dan perbuatan yang positif. Sebaliknya, pikiran juga dapat memberikan kesengsaraan apabila diikuti oleh akhlak dan perbuatan yang negatif. Tinggal bagaimana sebisa kita membawa diri kita untuk menyaring manakah hal yang baik atau tidak baik untuk dilakukan.

Dari hal yang sangat sederhana inilah saya mencoba mengajak anda untuk kembali merenungkan apa saja yang anda lakukan pada hari ini. Apakah hari ini anda banyak berpikiran positif atau negatif? Apakah anda hari ini melakukan perbuatan yang baik atau yang tidak baik? Berapa kali anda melakukannya pada hari ini? Apakah esok hari anda akan melakukannya kembali? Cukup itu saja pertanyaannya, dan saya persilakan anda untuk merenung pada diri anda sendiri sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini. Mengetahui keadaan diri pribadi adalah hal dasar dalam proses menjalani kehidupan di bumi ini dan sangat erat kaitannya dengan keadaan psikologis dan keimanan yang ada pada diri kita masing-masing.

Saat ini banyak manusia tersesat dalam hal ketajaman berpikir. Mereka umumnya hanya mengadaptasi pola pikir teoritik alias no action talk only. Dan yang menjadikannya lebih parah lagi umumnya mereka lalu merasa sanggup berpikir analitik tanpa dilanjutkan lagi dengan observasi untuk menuntut fakta. Cara berpikir seperti itu hanya menggunakan bagian otak sebelah kiri, itu juga tidak menggunakannya secara maksimal.

Makanya yang terjadi sekarang pada mayoritas manusia yang hidup di bumi ini adalah semiotika atau hilangnya makna hidup yang ada dalam diri mereka. Manusia macam itu biasa saya sebut dengan kalimat: “orang indonesia banget”. Menurut hasil yang saya dapatkan dari sumber yang dapat dipercaya, kebanyakkan orang indonesia tidak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir secara maksimal. Otak orang indonesia sangatlah bersih jika dibandingkan dengan otak orang jepang yang seluruh bagian otaknya penuh dengan serat dan guratan, itu karena otak orang jepang sangat sering sekali digunakan untuk berpikir. Apa yang orang indonesia pikirkan dalam mengatasi suatu masalah masih terlalu sederhana, tradisional, dan rata-rata hanya berpikir untuk satu kali penyelesaian saja. Dan konsep berpikir seperti itu tidak akan cocok untuk diterapkan di negara-negara maju atau negara berkembang, melainkan hanya cocok untuk diterapkan pada negara “sedang ingin maju”.

Tingkat ke-kritisan bangsa kita dalam berpikir masih jauh dibawah rata-rata. Mungkin itu dapat didasarkan pada tradisi bangsa kita yang sering menggunakan banyak kepala untuk berpikir yang bisa saya simpulkan sama dengan asas “musyawarah untuk mufakat”. Meskipun hasil yang didapatkan dari gotong royong untuk berpikir seperti ini sangat baik dan menguntungkan untuk semua pihak jika dilihat dari sisi kemanusiaan, tetapi apabila dilihat dari sisi yang berbeda yaitu ketegasan dan efeknya secara periodik sangatlah bertolak belakang alias tidak baik. Ada banyak sekali yang terjadi di sekitar kita untuk dapat dijadikan sebagai bukti dari hal tersebut yang kalau dituliskan disini dapat menghabiskan berlembar-lembar halaman dan mungkin anda sudah dapat mengetahui dan membayangkannya sehingga tidak usah lagi bagi saya untuk menuliskan bukti-bukti tersebut.

Penerapan cara berpikir efektif dan efisien tidak akan selamanya baik jika apa yang dipikirkan hanya cenderung berputar-putar tidak langsung to the point, mengulang kembali apa yang sudah pernah terpikirkan, ataupun sekedar menggunakan hasil pikiran orang lain untuk di-claim menjadi hasil pikirannya sendiri. Berpikir secara maksimal menuntut kita untuk memikirkan hasil yang diperleh tersebut adalah suatu hal yang baru atau minimalnya belum pernah terpikirkan oleh orang lain didalam kepala mereka. Coba bayangkan betapa mirisnya hati kita ketika kita tahu ide kita dicuri oleh orang lain dan mereka meng-claim ide tersebut adalah hasil pikiran mereka sendiri, sangat sungguh tidak menyenangkan sekali bukan?? Atau mungkin kebanyakan orang indonesia sudah tertular oleh cara berpikir bangsa cina yang terkenal sebagai bangsa plagiat?? Anda tidak ingin disamakan dengan mereka bukan?

Berpikir sederhana menggunakan otak kecil menurut saya jauh lebih baik dan hasil yang didapatkan juga akan lebih baik. Pikiran yang dihasilkan dari otak kecil hanya sekilas saja lalu kemudian akan hilang bila kita tidak memrosesnya lebih lanjut dengan menggunakan otak besar. Otak kecil dapat menghasilkan “pikiran inti” yang lebih akurat karena pikiran inti ini berkaitan sangat dekat dengan sugesti yang alami ada dalam diri kita. Dan akan lebih maksimal lagi ketika pikiran inti ini diproses lebih lanjut dalam otak besar untuk diperluas lagi pokok pikirannya. Pikiran yang dihasilkan oleh otak kecil ini sifatnya hanya sekilas atau selentingan saja. Ini dapat keluar ketika kita menghadapi suatu hal lalu ada sekilas pikiran pertama yang keluar dari otak kita, itulah yang disebut pikiran dari otak kecil. Dan kaitannya dengan sugesti sangat dekat karena sugesti merupakan rasa kepercayaan dan keyakinan kita akan suatu hal yang dapat menjadi kenyataan atau benar adanya.

Jogja, 19 Desember 2007

Sumber rujukan:

Gladwell M, 2005, Blink, Pt. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Entry Filed under: leadership. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


obj=new Object;obj.clockfile="0012-silver.swf";obj.TimeZone="JOG";obj.width=150;obj.height=150;obj.wmode="transparent";showClock(obj);

kata tamuku

yang udh ksini

Tulisan Terakhir