Senyum Itu Indah
Oleh: Prima Nugroho
Tuduhan bahwa bangsa ini sedang sakit jiwa, sudah keluar dari mulut sejumlah orang. Sebagian buktinya, bisa dilihat dari kejadian-kejadian seperti dukun santet di Jatim, tragedi Trisakti, bom Bali, munculnya agama baru, sampai dengan maraknya kasus korupsi para wakil rakyat. Kebenaran tuduhan ini, memang masih perlu pembuktian lebih lanjut. Namun, sulit mengingkari kenyataan bahwa ada jutaan manusia yang hidup was-was setiap hari, karena lamanya bangsa ini hidup dari tragedi ke tragedi.
Bila ini berlanjut, ratusan juta manusia yang menjadi pilar utama bangsa ini, cepat atau lambat mungkin mirip dengan komunitas orang gila. Tidak saling mengenal, saling mencurigai satu sama lain, mudah terbakar oleh isu. Sebagai hasilnya, jadilah kita sebuah komunitas manusia sakit, yang tidak hanya menyakitkan bagi diri sendiri, tetapi juga menakutkan bagi orang lain. Dalam keadaan demikian, kondisi masyarakat yang sehat (baik fisik maupun psikologis) sungguh merupakan mimpi yang menjadi dambaan banyak orang.
Saya pernah mendengar sebuah kalimat dari kesusastraan luar yang berbunyi: health is not just the absence of disease, but an inner joyfullness that should be ours all the time. Kalau kita menilik dari kalimat tersebut, rasanya kita masih teramat jauh dari kondisi sehat.
Bayangkan, ada kepala orang yang diarak keliling kota. Ada kiai yang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Ada gereja dan masjid yang hancur terbakar. Ada mahasiswa yang mati dengan tangan kosong berhadapan melawan pasukan bersenjata. Ada polisi lalu lintas yang tidak mengerti persoalan dihajar dan ditabrak. Ada pusat perbelanjaan yang hancur karena sebuah bom. Ada perang satu agama tetapi berbeda prinsip hidup. Ada ibu-ibu yang tidak pernah bisa mengerti kenapa Jakarta menjadi demikian menakutkan. Apabila semua itu digabung menjadi satu, kondisi inner joyfullness hanyalah sebuah impian muluk-muluk yang teramat jauh.
Saya mungkin hanya bermimpi bisa menjadi penyembuh dalam keadaan ini. Namun, membiarkan masyarakat hidup dengan keadaan seperti ini, tidak saja menghancurkan sumber daya manusia, tetapi mencampakkan kehidupan yang penuh dengan misi. Lebih dari itu, kita sedang mewariskan sejarah yang tidak membuat anak cucu sehat dengan vitamin-vitamin kejiwaan, tetapi malah menanam banyak racun kemanusiaan yang teramat busuk di sana-sini.
Dalam sebuah pertemuan sebuah komunitas minoritas jogja, hati saya pernah terluka. Hampir semua orang yang berbicara membangun tembok kami-kamu tinggi-tinggi. Kalau mayoritas begini, maka minoritas begitu. Kalau kamu itu maka kami ini. Dan seterusnya. Banyak orang-orang mempunyai rasa kebanggaan yang berlebih terhadap dirinya masing-masing ataupun dalam lingkup sebuah komunitas. Primodialisme yang begitu kuat sehingga menganggap diri sendirilah yang paling benar.
Mungkin saya hanya seorang pemimpi, namun sejarah mengajarkan, kebencian tidak pernah bisa disembuhkan secara total dengan kebencian. Tembok kita akan diikuti oleh tembok orang lain. Setiap penguasa yang naik tahta melalui jalan kekerasan akan berakhir dengan kekerasan juga.
Keyakinan kita terhadap sesuatu sudah sangat jarang dimiliki dalam diri. Prinsip dasar kehidupan manusia sebagai makhluk sosial banyak sekali disalahartikan. Bangsa ini terjebak dalam penyakit krisis keyakinan yang sedemikian kronis, sulit untuk disembuhkan. Dengan penuh keprihatinan harus saya ungkapkan ke Anda, keyakinan untuk sembuh terakhir inilah yang sedang dihancurkan oleh banyak orang.
Coba baca media cetak. Dengarkan radio. Tonton televisi. Belalakkan mata di tengah demonstrasi jalanan yang penuh dengan hujatan. Amati pidato pejabat dan pemimpin informal lainnya. Buka telinga terhadap obrolan resmi maupun tidak resmi. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut-mulut kecil masyarakat. Semuanya menumpukkan gunungan ketidakyakinan pada orang lain.
Saya ingin bertanya kepada Anda, siapa manusia Indonesia yang layak kita percayai sekarang ini? Pemerintah, politisi, intelektual, wakil rakyat, cendekiawan, mahasiswa, pengurus partai? Bila mencari dari pemikiran publik, tidak ada yang dianggap layak. Dan itu bukan karena pemikirannya keliru, namun kita sudah mengikat diri ke dalam penjara-penjara kecurigaan, kebencian, dan ketakutan. Dan penyakit parah yang sedang kita sandang sekarang ini, tentu saja karena kita secara bersama-sama yakin bahwa kekerasan dan kebencianlah pilihan yang paling layak. Di tengah jutaan manusia yang membangun tembok-tembok tinggi , saya bermimpi ada segelintir tokoh yang menjadi pahlawan. Ada pemuka yang menyejukkan jiwa dengan seluruh nyanyian kemanusiaannya. Sayangnya, jumlahnya amat dan teramat sedikit.
Saya bukanlah seorang manusia sempurna yang memiliki kehidupan ideal. Saya hanyalah seorang mahasiswa yang sedang mencari jati diri, yang sama dengan manusia lain, memiliki kebutuhan dasar untuk mencintai dan dicintai. Dalam kehidupan, hanya di tengah banjir cintalah inner joyfullness bisa tumbuh subur. Suatu adegan dalam sebuah film FTV yang ditayangkan SCTV pernah berujar: give me a smile, and I’ll give you the whole world.
Betapa indah dan produktifnya hidup, bila ada kumpulan manusia yang amat boros menghamburkan senyum ke orang lain. Berbicara dengan mimik muka senyum. Tindakan yang mengundang senyum kagum. Pikiran yang penuh dengan sprit tersenyum. Betapa indahnya dunia bila mimpi ini bisa tercapai.
Jogja, 29 Mei 2008
Add comment Juli 7, 2008
MERANGSANG KREATIVITAS
Oleh: Prima Nugroho
Selama ini mood atau suasana hati dituding sebagai pencetus munculnya kreativitas. Artinya kalau lagi mood, kreativitas seseorang dapat mengalir deras. Sebaliknya kalau lagi nggak mood, jangankan bisa kreatif, bekerja saja rasanya ogah-ogahan. Padahal anggapan tersebut tidak seluruhnya tepat.
Memang, ada sebagian orang yang tiba-tiba menjadi sangat kreatif jika sedang ‘mood’. Sehingga mereka selalu mengandalkan ‘mood’ dalam proses kreatifnya. Padahal kondisi ini tidaklah menguntungkan. Karena bagaimana Anda bisa bekerja dengan baik kalau mood Anda lagi nggak beres? Lalu gimana kalau nggak mood terus? Jika untuk kreatif saja mesti menunggu mood akibatnya Anda tidak bisa bekerja secara optimal dan maksimal.
Sesungguhnya kreativitas itu bisa dicari dan diusahakan, nggak perlu menunggu ‘mood’. Toh sebenarnya orang-orang yang aslinya kreatif tidak tergantung pada mood. Dalam segala cuaca ia selalu kreatif. Nah, Anda yang suka moody dalam hal kreativitas, coba deh simak ciri-ciri orang kreatif berikut ini:
- Curious atau dorongan untuk selalu tahunya selalu besar. Mereka akan senantiasa mencari jalan keluar agar rasa ingin tahunya terjawab. Memang, faktor kemampuan, kemauan, dan lingkungan sangat mempengaruhi. Tetapi umumnya, orang-orang yang kreatif selalu mampu mengatasinya.
- Agent of change or development atau agen perubahan. Orang-orang kreatif memang selalu mampu menciptakan perubahan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Ide-ide yang muncul di kepalanya selalu baru dan orisinil. Dia nggak akan kehilangan sumber kreativitas sekalipun sedang bad mood.
- Open of mind atau bersikap terbuka. Mereka yang kreatif selain bisa menciptakan perubahan juga selalu terbuka dengan segala bentuk perubahan yang ada. Dengan mudah, mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan dan situasi yang baru. Mereka juga siap menerima kritik dan masukan dari orang lain. Sebaliknya mereka juga sangat kritis melihat kondisi yang ada. Karena keterbukaannya, mereka tak segan-segan melontarkan saran dan pendapatnya terhadap suatu keadaan.
- Question and answer atau keinginan untuk bertanya dan menjawab. Orang-orang kreatif memang jarang sekali bersikap diam. Jika ada sesuatu yang mengusik pikirannya, mereka akan menanyakan hingga mendapat jawaban yang jelas. Umumnya mereka yang kreatif tidak pernah puas dengan hanya mendengar satu jawaban, hingga mereka akan mencarinya sampai mendapat jawaban yang memuaskan. Begitu juga dalam menghadapi setiap permasalahan, ia akan mencari jawaban untuk menyelesaikannya sampai tuntas.
Dari uraian tadi, ternyata kreativitas nggak selamanya tergantung mood kan? Ingat lho, kreativitas merupakan hal yang sangat berharga bagi Anda yang bekerja di bidang kreatif. So, Anda yang punya masalah dengan kreativitas, nggak ada salahnya mencontek kebiasaan atau ciri-ciri orang-orang kreatif. Semua bisa kok menjadi orang yang kreatif. Tentu asal Anda mau berusaha..!
Jogja, 13 Mei 2008
Sumber Rujukan:
M-Web, karir.
Add comment Juli 7, 2008
Maksimalkan Otak Untuk Berpikir
Oleh: Prima Nugroho
Akal pikiran adalah suatu anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia sehingga manusia menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Pikiran juga dapat membawa seseorang ke kehidupan yang lebih layak jika pikiran tersebut diimbangi dengan akhlak dan perbuatan yang positif. Sebaliknya, pikiran juga dapat memberikan kesengsaraan apabila diikuti oleh akhlak dan perbuatan yang negatif. Tinggal bagaimana sebisa kita membawa diri kita untuk menyaring manakah hal yang baik atau tidak baik untuk dilakukan.
Dari hal yang sangat sederhana inilah saya mencoba mengajak anda untuk kembali merenungkan apa saja yang anda lakukan pada hari ini. Apakah hari ini anda banyak berpikiran positif atau negatif? Apakah anda hari ini melakukan perbuatan yang baik atau yang tidak baik? Berapa kali anda melakukannya pada hari ini? Apakah esok hari anda akan melakukannya kembali? Cukup itu saja pertanyaannya, dan saya persilakan anda untuk merenung pada diri anda sendiri sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini. Mengetahui keadaan diri pribadi adalah hal dasar dalam proses menjalani kehidupan di bumi ini dan sangat erat kaitannya dengan keadaan psikologis dan keimanan yang ada pada diri kita masing-masing.
Saat ini banyak manusia tersesat dalam hal ketajaman berpikir. Mereka umumnya hanya mengadaptasi pola pikir teoritik alias no action talk only. Dan yang menjadikannya lebih parah lagi umumnya mereka lalu merasa sanggup berpikir analitik tanpa dilanjutkan lagi dengan observasi untuk menuntut fakta. Cara berpikir seperti itu hanya menggunakan bagian otak sebelah kiri, itu juga tidak menggunakannya secara maksimal.
Makanya yang terjadi sekarang pada mayoritas manusia yang hidup di bumi ini adalah semiotika atau hilangnya makna hidup yang ada dalam diri mereka. Manusia macam itu biasa saya sebut dengan kalimat: “orang indonesia banget”. Menurut hasil yang saya dapatkan dari sumber yang dapat dipercaya, kebanyakkan orang indonesia tidak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir secara maksimal. Otak orang indonesia sangatlah bersih jika dibandingkan dengan otak orang jepang yang seluruh bagian otaknya penuh dengan serat dan guratan, itu karena otak orang jepang sangat sering sekali digunakan untuk berpikir. Apa yang orang indonesia pikirkan dalam mengatasi suatu masalah masih terlalu sederhana, tradisional, dan rata-rata hanya berpikir untuk satu kali penyelesaian saja. Dan konsep berpikir seperti itu tidak akan cocok untuk diterapkan di negara-negara maju atau negara berkembang, melainkan hanya cocok untuk diterapkan pada negara “sedang ingin maju”.
Tingkat ke-kritisan bangsa kita dalam berpikir masih jauh dibawah rata-rata. Mungkin itu dapat didasarkan pada tradisi bangsa kita yang sering menggunakan banyak kepala untuk berpikir yang bisa saya simpulkan sama dengan asas “musyawarah untuk mufakat”. Meskipun hasil yang didapatkan dari gotong royong untuk berpikir seperti ini sangat baik dan menguntungkan untuk semua pihak jika dilihat dari sisi kemanusiaan, tetapi apabila dilihat dari sisi yang berbeda yaitu ketegasan dan efeknya secara periodik sangatlah bertolak belakang alias tidak baik. Ada banyak sekali yang terjadi di sekitar kita untuk dapat dijadikan sebagai bukti dari hal tersebut yang kalau dituliskan disini dapat menghabiskan berlembar-lembar halaman dan mungkin anda sudah dapat mengetahui dan membayangkannya sehingga tidak usah lagi bagi saya untuk menuliskan bukti-bukti tersebut.
Penerapan cara berpikir efektif dan efisien tidak akan selamanya baik jika apa yang dipikirkan hanya cenderung berputar-putar tidak langsung to the point, mengulang kembali apa yang sudah pernah terpikirkan, ataupun sekedar menggunakan hasil pikiran orang lain untuk di-claim menjadi hasil pikirannya sendiri. Berpikir secara maksimal menuntut kita untuk memikirkan hasil yang diperleh tersebut adalah suatu hal yang baru atau minimalnya belum pernah terpikirkan oleh orang lain didalam kepala mereka. Coba bayangkan betapa mirisnya hati kita ketika kita tahu ide kita dicuri oleh orang lain dan mereka meng-claim ide tersebut adalah hasil pikiran mereka sendiri, sangat sungguh tidak menyenangkan sekali bukan?? Atau mungkin kebanyakan orang indonesia sudah tertular oleh cara berpikir bangsa cina yang terkenal sebagai bangsa plagiat?? Anda tidak ingin disamakan dengan mereka bukan?
Berpikir sederhana menggunakan otak kecil menurut saya jauh lebih baik dan hasil yang didapatkan juga akan lebih baik. Pikiran yang dihasilkan dari otak kecil hanya sekilas saja lalu kemudian akan hilang bila kita tidak memrosesnya lebih lanjut dengan menggunakan otak besar. Otak kecil dapat menghasilkan “pikiran inti” yang lebih akurat karena pikiran inti ini berkaitan sangat dekat dengan sugesti yang alami ada dalam diri kita. Dan akan lebih maksimal lagi ketika pikiran inti ini diproses lebih lanjut dalam otak besar untuk diperluas lagi pokok pikirannya. Pikiran yang dihasilkan oleh otak kecil ini sifatnya hanya sekilas atau selentingan saja. Ini dapat keluar ketika kita menghadapi suatu hal lalu ada sekilas pikiran pertama yang keluar dari otak kita, itulah yang disebut pikiran dari otak kecil. Dan kaitannya dengan sugesti sangat dekat karena sugesti merupakan rasa kepercayaan dan keyakinan kita akan suatu hal yang dapat menjadi kenyataan atau benar adanya.
Jogja, 19 Desember 2007
Sumber rujukan:
Gladwell M, 2005, Blink, Pt. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Add comment Juli 7, 2008